Artikel

Meluruskan Stigma Shafar: Waktu Biasa, Pahala Luar Biasa

01 September 2026 OSIS (Muhammad Aufa Ash Shiddieq)
Meluruskan Stigma Shafar: Waktu Biasa, Pahala Luar Biasa

Seputar Bulan Shafar

Bulan Shafar adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriyah, yang hadir tepat setelah bulan Muharram. Di balik namanya yang sering kali diasosiasikan dengan berbagai mitos kelam di masa lampau, bulan ini sebenarnya menyimpan sejarah berharga dan tidak memiliki keistimewaan buruk apa pun.

Kekeliruan yang sering kali terjadi

Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab Jahiliyah memandang bulan Shafar sebagai bulan yang penuh kesialan dan marabahaya. Mereka percaya bahwa siapa pun yang menggelar pernikahan, memulai perjalanan, atau merintis usaha pada bulan ini akan ditimpa malapetaka. Bahkan, sebagian dari mereka meyakini adanya wabah penyakit perut tertentu yang juga dinamakan shafar bisa menular secara mandiri tanpa kehendak Tuhan.

1. Menyakini Bulan Shafar sebagai Bulan Sial atau Penuh Musibah

Kesalahan paling umum adalah menganggap bulan Shafar sebagai bulan malapetaka, di mana bala dan bencana diturunkan secara khusus. Keyakinan ini membuat sebagian orang enggan menggelar pernikahan, mengadakan hajatan, memulai perjalanan jauh, atau merintis usaha baru karena takut bernasib sial. Padahal, semua waktu diciptakan Allah dalam keadaan baik, dan tidak ada satu pun bulan yang mendatangkan kesialan.

2. Mengadakan Ritual "Tolak Bala" Khusus

Karena terjebak dalam rasa takut yang tidak berdasar terhadap mitos kesialan bulan Shafar, sebagian masyarakat kerap menciptakan ritual-ritual tertentu untuk menolak bala. Contoh yang populer di sebagian tempat adalah tradisi Rebo Wekasan (Rabu terakhir di bulan Shafar) yang diisi dengan shalat khusus tolak bala, mandi ritual tertentu, atau menulis ayat-ayat tertentu untuk diminum airnya. Para ulama menegaskan bahwa ritual-ritual khusus ini merupakan bentuk bid'ah karena tidak pernah diajarkan, dicontohkan, ataupun disyariatkan oleh Nabi Muhammad SAW maupun para sahabatnya.

3. Meramal Nasib atau Bersandar pada Thiyarah

Sebagian orang masih ada yang mengaitkan kesialan dengan kejadian tertentu di bulan Shafar—misalnya, jika mengalami kecelakaan kecil atau musibah di bulan ini, mereka langsung menyimpulkan bahwa itu akibat "sialnya bulan Shafar". Padahal, Islam secara tegas melarang thiyarah (meramal kesialan dari benda, waktu, atau burung) karena hal tersebut mencederai kemurnian tauhid dan tawakal kepada Allah SWT.

Sejarah Asli: Bulan Shafar Justru Penuh Momentum Indah

Sejarah bulan Shafar sebenarnya merekam banyak catatan penting, mulai dari peristiwa besar dalam perjuangan Islam hingga momen-momen personal yang penuh berkah dalam kehidupan Rasulullah SAW. Jauh dari kesan kelam yang diwariskan oleh masa Jahiliyah, bulan ini menjadi saksi bisu bagi babak-babak penting peradaban Islam. 

1. Pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah ra

Sebelum diangkat menjadi nabi, Rasulullah SAW melangsungkan pernikahan yang agung dan penuh berkah dengan Sayyidatina Khadijah binti Khuwailid ra pada bulan Shafar. Pernikahan ini menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidup beliau, di mana Khadijah ra menjadi pendukung paling setia di awal-awal dakwah Islam.

2. Pernikahan Fatimah az-Zahra ra dan Ali bin Abi Thalib ra

Pada bulan Shafar tahun ke-2 Hijriyah, peristiwa membahagiakan kembali terjadi di rumah tangga kenabian. Rasulullah SAW menikahkan putri tercinta beliau, Fatimah az-Zahra ra, dengan sepupu sekaligus sahabat dekat beliau, Ali bin Abi Thalib ra. Dari pernikahan penuh berkah inilah lahir keturunan Nabi Muhammad SAW yang meneruskan garis keturunan Ahlulbait.

3. Disyariatkannya Perang Pertama yang Dipimpin Nabi (Perang Abwa')

Bulan Shafar tahun ke-2 Hijriyah juga mencatat babak baru dalam pertahanan kaum Muslimin di Madinah. Rasulullah SAW untuk pertama kalinya turun langsung memimpin pasukan militer dalam sebuah ekspedisi yang dikenal sebagai Perang Abwa' (atau Perang Waddan). Ekspedisi ini bertujuan untuk merintis perjanjian damai dengan kabilah-kabilah lokal di sekitar jalur perdagangan demi keamanan Madinah.

4. Persiapan Hijrah ke Madinah

Menjelang akhir bulan Shafar, tepatnya sebelum Nabi Muhammad SAW meninggalkan Makkah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq ra, terjadi pertemuan-pertemuan rahasia di Dar an-Nadwah di mana kaum musyrik Quraisy merencanakan pembunuhan terhadap beliau. Allah SWT kemudian melindungi Nabi-Nya dan mengizinkannya memulai perjalanan hijrah bersejarah yang mengubah arah peradaban dunia Islam tepat pada akhir bulan Shafar hingga awal Rabiul Awal.

Catatan-catatan sejarah ini membuktikan bahwa bulan Shafar adalah bulan yang penuh dinamika positif, perjuangan, dan cinta kasih, sama sekali tidak ada kaitannya dengan mitos kesialan yang sempat disangkakan oleh orang-orang masa lampau.

Bagaimana sikap kita seharusnya?

Diantara tanda merdeka dan sehatnya hati ialah, manakala ia terbebas dari belenggu kekhawatiran dan mitos yang belum tentu benar adanya. Akal yang sehat ialah bilamana ia mengaitkan seluruh perkaranya kepada tuhan yang maha kuasa, takutnya hanya kepada Allah, harapannya ia gantungkan kepada Allah dan semua perkara ia serahkan kepada sang maha pencipta.

Sebagai umat Islam, jalan keselamatan terbaik dalam menghadapi bulan Shafar atau bulan-bulan lainnya adalah dengan memperkuat akidah, memperbanyak amal saleh yang disyariatkan secara umum (seperti sedekah dan doa), serta menyandarkan segala perlindungan hanya kepada Allah SWT sebagaimana ditegaskan dalam Surah At-Taubah ayat 51 :     

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Artinya:

"Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.”

Juga sabda Rasulullah :

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَّةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

Artinya:

"Tidak ada penularan penyakit (tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (meramal kesialan dari burung atau benda), tidak ada hammah (mitos burung hantu pembawa sial), dan tidak ada Shafar (kesialan di bulan Shafar). Dan larilah dari orang yang berpenyakit kusta sebagaimana kamu lari dari singa." (HR. Bukhari no. 5707 dan Muslim no. 2220)

Epilog

Bulan Shafar bukanlah bulan sial, penuh kutukan, atau wadah turunnya marabahaya sebagaimana yang diyakini masyarakat Jahiliyah di masa lampau. Islam telah meluruskan kekeliruan tersebut dengan tegas melalui sabda Rasulullah SAW, memastikan bahwa tidak ada waktu atau bulan yang membawa kemalangan. Sebaliknya, bulan Shafar justru merekam berbagai lembaran sejarah yang mulia dan penuh keberkahan, mulai dari pernikahan agung dalam keluarga Nabi hingga tonggak perjuangan Islam. Oleh karena itu, mari sambut dan jalani hari-hari di bulan Shafar dengan pikiran yang positif, produktivitas tinggi, serta keyakinan penuh bahwa segala ketetapan Allah adalah yang terbaik. Cukup perbanyak amal saleh secara umum dan gantungkan rasa aman serta tawakal hanya kepada-Nya.

Bagikan Kebaikan Ini: